Entrepreneur Housewifey MOMspirations Personal

Mompreneur: The Art of Juggling

Assalamu’alaikum gorgeous!

“Mompreneur is a neologism defined as a female business owner who is actively balancing the role of mom and the role of entrepreneur.” – Wikipedia

Tidak terasa sudah hampir 2 tahun saya menjadi seorang mompreneur. Ya, semenjak kelahiran Kal, saya otomatis berubah status dari seorang entrepreneur kecil-kecilan menjadi seorang mompreneur. Ketika pada proses start up usaha ini saya masih bisa kesana-kemari sesuka hati, ikut les jahit, hunting kain dari daerah Mayestik, sampai ke Cipadu pun saya lakoni sendiri dengan dukungan tiada batas dari suami tercinta. Sekarang setelah menjadi seorang Bundo, saya harus terlebih dahulu merencanakan kegiatan saya, paling tidak untuk minimal 2 hari kedepan, agar perhatian dan kewajiban saya untuk merawat buah hati tidak terlantar.

JugglingIt’s “the” word that every mompreneur has to deal, like almost everyday. Ada masa dimana saya merasa sangat optimis bisa melakoni semuanya. To-do list all checked! Supermom is in da house ya’ll! Tapi ada kalanya dimana rasanya pengen nangis sesenggukan di pojokan karena merasa tidak sanggup, overwhelmedstressed, murka, dll. You name it lah. Terlebih jika muncul beberapa problem yang harus diselesaikan bersamaan. Misalnya nih, mau ada pameran, eh anak sakit, pegawai tiba-tiba resign, plus jahitan belum kelar. Yaaaak, amburadul rasanya. Okay, I was over react

work at home parent is an entrepreneur who works from home and integrates parenting into his or her business activities. They are sometimes referred to as a WAHM (work at home mom) or a WAHD (work at home dad). – Wikipedia

Well, I’m actually not working at home anymore since I have my own office to run the business right now, alhamdulillah. Skala bisnis yang membesar membuat bisnis itu tidak sanggup lagi ditampung di rumah kami yang sepetak bin seuprit itu. Bisa-bisa serumah penuh sama produk yang bejibun dan mesin-mesin konveksi. Padahal awalnya niat saya berbisnis supaya bisa mengerjakan pekerjaan yang saya senangi dari rumah saja. Namun ternyata Allah swt. memberikan kami rejeki lewat usaha kecil-kecilan tersebut. Kalau dilihat dari sisi positifnya ya senang dan bersyukur karena saat itu bisnis bisa berkembang pesat. Tapi disisi lain ternyata ada harga yang harus dibayar ketika ternyata saya dinyatakan hamil bersamaan dengan pindahan usaha ke kantor baru (bukan di rumah lagi). Walau jaraknya dekat, tapi kesibukan merawat newborn membuat usaha saya sempat mati suri tanpa mengeluarkan produk baru. Maklum, walau sudah punya pegawai tapi semua masih harus dipiloti oleh saya. Belum ada team yang solid yang bisa menjalankan usaha ini secara autopilot. Setelah Kal sudah cukup besar, dan sudah dapet mbak yang bisa dipercaya untuk bantu jaga Kal selama saya bekerja, usaha pun kembali dijalankan. Yang berarti sedikit banyak seperti kembali memulai lagi dari nol.

Beberapa bulan belakangan ini saya “bekerja” dengan meninggalkan Kal berdua sama mbaknya di rumah selama kurang lebih 5 jam per hari. Biasanya dalam 1 minggu saya bisa 4 kali pergi dari rumah untuk bekerja. Terkadang bisa sih sambil quick escape dulu sama teman-teman jika level jenuh sudah memuncak. Pada masa itu saya merasa semua aman terkendali. Toh saya tidak seperti working moms lain yang bekerja 9 to 5.  Sampai akhirnya saya terlena dengan adanya waktu untuk bisa keluar rumah tanpa harus momong Kal. My priority has changed. Hidup mulai tidak seimbang..

 

Balance Breeds Success
Untungnya saya dan suami cepat menyadari keterlenaan saya terhadap pekerjaan. Hal ini ditandai pula dengan adanya perubahan dalam diri Kal yang berbeda dari biasanya. Kal jadi lebih penakut, dia juga sedikit emosional jika berhadapan dengan saya. Nampaknya itu adalah tanda bahwa dia tidak merasa aman, dan kurang perhatian. Seketika saya sadar. Bahwa seharusnya pendidikan Kal mutlak sepenuhnya berada di tangan saya, Ibu-nya. Seharusnya saya bisa juggling dengan melibatkan Kal lebih banyak pada saat saya bekerja. Saya sebetulnya punya kebebasan untuk membawa Kal ke kantor setiap saya bekerja. Namun saya akui jika saya membawa Kal, maka otomatis saya tidak bisa full konsentrasi untuk bekerja, saya harus menjaga Kal (saya juga membiasakan diri untuk pergi berdua saja dengan Kal, tanpa mbak) di kantor.

Yah belum terlambat untuk kembali ke prioritas utama saya, yaitu anak dan keluarga. Bagaimanapun sejak awal saya berkomitmen untuk membesarkan anak-anak saya nanti dengan tangan saya sendiri. So, I choose to take 1 step back in business, dan sedikit lebih santai dalam mengurus usaha. Inilah “Balance” yang sebenarnya saya cari. Bisa kasih makan Kal dengan tangan sendiri, ajak Kal main dan berpetualang kapanpun dia mau, being fully responsible on everything he learns, be a good living example for him, and the most important is being a good mom for him (and his siblings..  One day.. Aamiin), tapi usaha tetap berjalan dengan cara mendelegasikan pekerjaan kepada pegawai yang telah di training untuk menghandle aktivitas sales dan accounting. Tugas saya memonitor laporan dan sembari merancang koleksi selanjutnya.

Keseimbangan mendatangkan kesuksesan. Mudah-mudahan dengan pilihan “keseimbangan versi gue” ini, usaha-usaha yang kami jalani sekarang dapat lebih berkah, karena semua diusahakan semata untuk masa depan anak. Namanya juga usaha. 🙂

mompreneur-2 Mompreneur: The Art of Juggling

mompreneur-1 Mompreneur: The Art of Juggling

*****

Wasalamu’alaikum!

Ola Aswandi | Twitter @olanatics | IG olanatics

DO NOT COPY & PASTE THE PHOTOS WITHOUT PERMISSION

Copyright of olanatics.com

You may also like...

Mana jejaknya?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

2 Comments

  1. Hai, Ola. Walaupun bukan mompreneur, saya tahu rasanya. Saya bekerja dari rumah, tapi seringkali saya merasa bersalah karena kurang memperhatikan anak-anak 🙁

    1. Ola Aswandi says:

      Iya mbaa, apalagi kalau dirumah tp sibuk ngerjain yg lain.. Huhuhu