8 Tips Memulai Karir Sebagai Mompreneur

Assalamu’alaikum fellow readers!

Ketika kecil, saya sering ditanya, mau jadi apa nanti kalau sudah besar?

Pada saat itu, kebanyakan anak-anak akan menjawab ingin menjadi dokter, insinyur atau pilot, bahkan presiden sekalian! Terinspirasi dari lagunya Susan dan Kak Ria Enes tampaknya sih, hehehe. Nah beruntungnya saya termasuk anak mainstream yang ikut arus dengan menyebutkan dokter sebagai profesi impian saya. Setelah dokter, lalu berubah lagi maunya jadi pegawai bank. Alasannya simpel, dulu kepincut sama seragam para teller bank yang cantik, ramah, dan cekatan, hahaha. Setelah itu, berubah lagi pengen jadi astronot karena saya suka lihat bintang. Hahaha makin susah aja cita-citanya.

b-PIM-today-33-683x1024 8 Tips Memulai Karir Sebagai Mompreneur

cita-cita saya sebenarnya jadi ibu pejabat seperti iniiii..

readmore 8 Tips Memulai Karir Sebagai Mompreneur

chart1 8 Tips Memulai Karir Sebagai Mompreneur980 unique page views

Mompreneur: The Art of Juggling

Assalamu’alaikum gorgeous!

“Mompreneur is a neologism defined as a female business owner who is actively balancing the role of mom and the role of entrepreneur.” – Wikipedia

Tidak terasa sudah hampir 2 tahun saya menjadi seorang mompreneur. Ya, semenjak kelahiran Kal, saya otomatis berubah status dari seorang entrepreneur kecil-kecilan menjadi seorang mompreneur. Ketika pada proses start up usaha ini saya masih bisa kesana-kemari sesuka hati, ikut les jahit, hunting kain dari daerah Mayestik, sampai ke Cipadu pun saya lakoni sendiri dengan dukungan tiada batas dari suami tercinta. Sekarang setelah menjadi seorang Bundo, saya harus terlebih dahulu merencanakan kegiatan saya, paling tidak untuk minimal 2 hari kedepan, agar perhatian dan kewajiban saya untuk merawat buah hati tidak terlantar.

JugglingIt’s “the” word that every mompreneur has to deal, like almost everyday. Ada masa dimana saya merasa sangat optimis bisa melakoni semuanya. To-do list all checked! Supermom is in da house ya’ll! Tapi ada kalanya dimana rasanya pengen nangis sesenggukan di pojokan karena merasa tidak sanggup, overwhelmedstressed, murka, dll. You name it lah. Terlebih jika muncul beberapa problem yang harus diselesaikan bersamaan. Misalnya nih, mau ada pameran, eh anak sakit, pegawai tiba-tiba resign, plus jahitan belum kelar. Yaaaak, amburadul rasanya. Okay, I was over react

work at home parent is an entrepreneur who works from home and integrates parenting into his or her business activities. They are sometimes referred to as a WAHM (work at home mom) or a WAHD (work at home dad). – Wikipedia

Well, I’m actually not working at home anymore since I have my own office to run the business right now, alhamdulillah. Skala bisnis yang membesar membuat bisnis itu tidak sanggup lagi ditampung di rumah kami yang sepetak bin seuprit itu. Bisa-bisa serumah penuh sama produk yang bejibun dan mesin-mesin konveksi. Padahal awalnya niat saya berbisnis supaya bisa mengerjakan pekerjaan yang saya senangi dari rumah saja. Namun ternyata Allah swt. memberikan kami rejeki lewat usaha kecil-kecilan tersebut. Kalau dilihat dari sisi positifnya ya senang dan bersyukur karena saat itu bisnis bisa berkembang pesat. Tapi disisi lain ternyata ada harga yang harus dibayar ketika ternyata saya dinyatakan hamil bersamaan dengan pindahan usaha ke kantor baru (bukan di rumah lagi). Walau jaraknya dekat, tapi kesibukan merawat newborn membuat usaha saya sempat mati suri tanpa mengeluarkan produk baru. Maklum, walau sudah punya pegawai tapi semua masih harus dipiloti oleh saya. Belum ada team yang solid yang bisa menjalankan usaha ini secara autopilot. Setelah Kal sudah cukup besar, dan sudah dapet mbak yang bisa dipercaya untuk bantu jaga Kal selama saya bekerja, usaha pun kembali dijalankan. Yang berarti sedikit banyak seperti kembali memulai lagi dari nol. readmore Mompreneur: The Art of Juggling

chart1 Mompreneur: The Art of Juggling79 unique page views