Filosofi Petani

Assalamu’alaikum gorgeous!

Paddy_field2ss_resize Filosofi Petani

Tulisan ini terinspirasi hamparan sawah yang saya lewati ketika dalam perjalanan menggunakan kereta ke Semarang.

Pernahkah kamu melihat hamparan sawah yang begitu luas? Hijau, sepanjang mata memandang. Hamparan padi yang mulai tumbuh dengan suburnya di sawah-sawah para petani.

Tanaman padi ini telah saya lihat sejak kecil ketika saya diberi kesempatan untuk tinggal di pulau Sumatera bagian paling barat Indonesia. Sejak kecil saya akrab dengan pemandangan sawah, pegunungan, sungai, pantai-pantai indah belum terjamah, serta lautan seluas samudera. Sejak kecil sudah ditanamkan rasa cinta dengan alam Indonesia, makanan Indonesia yang beranekaragam, dan kebudayaan serta bahasa lokal yang mengandung ciri khas masing-masing.

Namun kali ini, saya tersentuh melihat pemandangan yang saya lewati. Saya melihat sepetak sawah yang terlihat sangat dilindungi oleh Petaninya. Ya, hanya sepetak, bukannya sawah yang terlihat beribu meter terhampar seperti biasanya…

Sepetak sawah kecil ini dilindungi oleh jaring-jaring yang berguna untuk menghalau burung dan binatang lain yang mungkin mengganggu. Jaringnya begitu rapat sehingga tampak seperti rumah jaring. Hanya sepetak sawah ini yang diberi perlakuan istimewa oleh sang petani.

sawah2 Filosofi Petani

Saya kemudian merenungkan makna yang terdapat pada sepetak sawah tersebut.

Kenapa sang petani begitu protektif menjaga sawahnya yang hanya sepetak itu?
Mungkinkah hanya sepetak sawah itu yang menjadi sumber mata pencaharian sang Petani, sehingga ia dengan sepenuh tenaga melindungi sumber rejekinya rersebut?

Saya pun terhenyak dengan berbagai asumsi yang menggetarkan nurani.

Seketika saya teringat betapa baiknya Allah swt kepada keluarga kami. Betapa mudahnya untuk kami membeli beras kualitas terbaik, lauk pauk serba enak, pakaian mode terbaru, dan berbagai rejeki lainnya – yang mungkin jarang saya syukuri karena sudah menjadi barang “biasa” bagi kami.

Alhamdulillah alhamdulillah alhamdulillah..

Kalimat syukur ini segera mengisi relung hati saya. Teringat akan kegigihan sang petani dalam mencari nafkah yang berbanding terbalik dengan kelalaian dan kemalasan saya dalam beribadah sebagai ungkapan tanda syukur saya atas segala berkah yang diberikan Allah swt. Teringat akan seringnya saya gusar karena hal-hal kecil yang mungkin akan ditertawakan oleh orang-orang yang tidak seberuntung saya.

Kesederhanaan, serta kemampuan berikhtiar dan tawakkal dari sang Petani mampu menerobos angkuh diri.

Ya Rabb, terima kasih telah menyentuh hati hamba hanya dengan sekelebat gambaran sepetak sawah…

p.s: photos are taken from google.

*****

Wasalamu’alaikum!

Ola Aswandi | Twitter @olanatics | IG olanatics

Copyright of olanatics.com

chart1 Filosofi Petani665 unique page views

Mana jejaknya?