Dearest Hubby

Jakarta, 30.03.2011

Assalamu’alaikum suamiku,

entah mengapa hari ini aku ingin sekali menulis sebuah surat untukmu.. Ini bukanlah kebiasaanku, memang, namun kali ini aku ingin sekali menuangkan isi hatiku yang mungkin tidak pernah dapat kusampaikan langsung di depan kedua matamu..

Suamiku,

dengan izin Allah, 158 hari sudah kita mengarungi bahtera rumah tangga ini bersama. Duka kerap menghiasi langkah kebersamaan kita. Tangis pun tak kalah menghujani atap cinta kita. Beberapa kali kita bertengkar hebat, meributkan masalah yang sebenarnya sepele, masalah yang kadang timbul karena sensitifitas dan harga diri yang tersentil melalu ucapan, dan perbuatan menyakiti yang mungkin tidak sengaja kita lakukan. Namun semua itu sirna sekejap saja, sewaktu kamu memelukku hangat serta mencium keningku dengan penuh cinta setiap pagi.

Suamiku,

hari ini, sambil bermalas-malasan kamu mengeluh karena harus segera bersiap dan pergi untuk mencari nafkah dan meninggalkanku sendiri di rumah. Namun ada hal yang sangat kusyukuri setiap pagi menjelang kepergianmu ke kantor, aku dapat mencium tanganmu dan wajahmu, serta memelukmu erat sesaat sebelum kau membuka pintu itu, lalu menghilang diujung jalan.

Suamiku,

selama kamu di kantor, aku berusaha mengerjakan pekerjaan rumah tangga sebisaku. Maaf jika aku masih jauh dari figur seorang istri idaman. Sering kali aku malas, dan lalai, bahkan untuk mengurus diriku sendiri. Tapi kamu selalu ada, memaafkan, dan berusaha memberiku semangat. 🙂

Suamiku,

ketika malam menjelang, aku kembali bersemangat, kenapa? Karena kamu akan pulang sebentar lagi. Pintu itu pun akan kembali kamu buka sembari mengucap salam. “Assalamu’alaikum!”, ujarmu. Lalu aku pun menyambutmu sambil tersenyum dan meraih tanganmu untuk menciumnya..

Namun sayangnya sering kali aku lupa untuk tersenyum kepadamu, lupa meraih tanganmu, lupa bersikap manis kepadamu yang telah lelah bekerja seharian demi keluarga kita, demi diriku. Lupa bahwa kamu butuh diperhatikan, dilayani. Tapi kamu tak mengeluh, kamu memilih untuk mengerti keadaanku, kebosananku, serta dengan sabar mendengarkan keluhanku. Kamu, sekali lagi, membuatku nyaman, dan kamu pun mengabaikan keletihanmu..

Suamiku,

Allah telah mempertemukan kita dengan caraNya yang luar biasa. Allah juga telah menghilangkan berbagai halangan yang mungkin mengganggu proses penyatuan kita. Subhanallah, sampai sekarang terkadang aku merasa heran, bagaimana kita, yang baru mengenal satu sama lain dalam waktu kurang dari satu setengah tahun, dapat bersatu secepat ini. “Sudah jodoh”, begitu kata orang. Aku pun bersyukur dapat berjodoh denganmu.

Suamiku,

pernikahan kita memang baru seumur jagung. Masih banyak cobaan dan rintangan yang akan menguji kita. Aku harap kita dapat senantiasa berserah diri kepada Allah, serta bersyukur atas apapun yang diberikanNya, baik atau buruk. Apapun masalah yang kita hadapi nanti, tidak ada yang dapat menguatkan kita melainkan Allah Azza wa Jalla..

Aku mencintaimu karena Allah. Aku berdoa selalu untuk kesehatan dan segala kebaikan untukmu..

Your wife, Ola Fadly.

This letter is written by Ola Fadly to her husband, Anhar Fadly.

*****

Wasalamu’alaikum!

Ola Aswandi | Twitter @olanatics | IG olanatics

DO NOT COPY & PASTE THE PHOTOS WITHOUT PERMISSION

Copyright of olanatics.com

chart1 Dearest Hubby33 unique page views

19 Comments

  1. woww… luar biasa ola, sedih sambil senyum2 bacanya. semoga Allah SWT selalu sayang ola& keluarga. slam kenal 🙂

  2. soo touchy olaa!
    jadi inget sering juga bikin2 surat untuk orang yang aku sayang, tapi blm pernah si ke suami.. (belum punya soalnya.. :D)

    • tidak ada maksud apa2 kakanda.. hanya ingin menulis sesuatu untukmu… ciyeeeeeeh.. 😀 I LOVE U toooo.. muaaach.. ❤

Mana jejaknya?